Postingan

Kisah Stasiun Radio Pemancar Pertama yang Mendunia Berada di Malabar Bandung

Bandung -  Wilayah Bandung senantiasa menjadi perhatian dunia, karena keindahan pariwisata dan budayanya yang kesohor sejak dulu kala. Jejak kekaguman itu salah satunya bisa kita temui di kawasan Gunung Puntang, Pegunungan Malabar, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. Di mana pada tahun 1923, Pemerintah Hindia Belanda mampu membangun sebuah stasiun radio terbesar, dengan sistem operasi tercanggih pada saat itu. Bahkan saking modernnya, stasiun pemancar yang dirancang oleh insinyur elektro kenamaan lulusan Jerman bernama Dr. Ir. Cornelis Johannes de Groot itu sempat diperhitungkan dan masuk ke sejarah perkembangan radio dunia karena jadi penghubung komunikasi Indonesia - Belanda sejauh 12.000 kilometer. Sebagai Pemancar Nirkabel Pertama di Dunia Sebagaimana dijelaskan di situs mooibandung, keunggulan tersebut terdapat pada sistem pemancar tanpa kabel (nirkabel) nya yang merupakan satu-satunya dan pertama di dunia. Dalam ulasan sejarah Komunikasi di Bandung lewat buku Tjitaroemple...

Seorang Astronot Membagikan Foto Bumi dari Luar Angkasa yang Terlihat 'Mengerikan'

Jakarta -  Astronaut mampu melihat lebih luas tentang penampakan Bumi daripada siapa word play here. Mereka bisa melihat dengan jelas kondisi Bumi dari luar angkasa, namun hal itu juga yang tak sedikit dari para astronaut merasa kecewa dan sedih. Mengapa? Adalah astronaut NASA, Megan McArthur, yang kini sedang berada di stasiun luar angkasa (Worldwide Area Station/ISS), mengatakan prihatin melihat kondisi Bumi pada saat ini. Ia bercerita kondisi Bumi sangat mengkhawatirkan jika dilihat dari ISS yang terletak di Low Planet Orbit dengan ketinggian sekitar 408 hingga 410 kilometer di atas permukaan Bumi. McArthur menjelaskan perubahan suhu dan beberapa musibah besar yang terjadi di Bumi, seperti kebakaran hutan yang hebat, bisa dilihat dengan mudah dari ISS. "Kami sangat sedih melihat kebakaran di sebagian besar Bumi, bukan hanya Amerika Serikat," kata astronaut NASA Megan McArthur dikutip Expert. Citra satelit dari ISS memang menunjukkan kondisi kebakaran hutan melanda sejuml...

Sejarah Tanah Deli Dan Asal Mula Nama Kota Medan, Sebagai Berikut

Jakarta - Hari Jadi Kota Medan diperingati setiap 1 Juli. Di tahun ini, kota terbesar ketiga di Indonesia ini genap merayakan Hari Jadinya yang ke-431. Kota Medan dikenal sebagai kota municipal terbesar setelah Jakarta dan Surabaya. Kota ini menyimpan banyak keberagaman etnis dan budaya yang hidup saling berdampingan selama ratusan tahun. Dulunya, Kota Medan ini dijuluki sebagai " Paris van Sumatra " karena memiliki keasrian dan bentuk bangunan gaya Eropa. Selain itu, sebagai pintu gerbang Indonesia bagian barat, Kota Medan menjadi pusat perdagangan, industri dan bisnis yang multikultur sejak zaman Hindia Belanda hingga sekarang. Melansir dari laman Pemerintah Kota (Pemkot) Medan, berikut sejarah awal mula terciptanya nama Kota Medan.   Dulunya Disebut Tanah Delicatessen Kota Medan ini dulunya berupa tanah yang berawa dengan luas kurang lebih 4.000 hektare. Beberapa sungai melintasi Kota Medan ini, seperti Sei Delicatessen, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Dena...

Cerita Dari Pekerja Pembakar Mayat Covid-19 di India, "Kondisi Merasa Seperti Burung Pemakan Bangkai"

Jakarta -  Deen Dayal Verma tidak pernah membakar mayat sebanyak tahun ini. Duduk di bawah naungan atap sperm di sebuah krematorium di kota Barabanki, pria 55 tahun yang menjadi pekerja krematorium selama enam tahun terakhir, berkata dengan senyum masam: "Sebenarnya, tidak ada mayat yang datang hari ini. Apakah Covid-19 sudah berakhir atau mayatnya dibawa ke krematorium lain?" Di India, makna religius pembakaran mayat untuk menghormati orang yang meninggal ditinggalkan ketika mayat menumpuk selama gelombang kedua Covid-19 yang mematikan. Saat Deen Dayal menunggu pekerjaan datang, dia mengisap bidi (cerutu mini yang diisi dengan serpihan tembakau dan dibungkus dengan daun tendu yang diikat dengan tali). "Saya belum menghitung jenazah, tetapi pada bulan April dan Mei, saya bekerja dari jam 5 pagi hingga tengah malam setiap hari. Saya pikir saya membakar lebih dari 100 tumpukan kayu bakar di bulan April saja. Tidak ada habisnya mayat yang datang ke krematorium ini," j...

Mantan KKB di Papua Puncak Jaya Menjadi Penjaga Desanya Sendiri Bersama Kamtibmas Daerah Tersebut

Jayapura -  Namanya Boni Telenggen. Dulu, ia adalah pengikut setia KKB pimpinan Lekagak Telenggen. Boni telah kembali ke pangkuan ibu pertiwi pada 2016. Ia berjanji ikut membangun daerahnya. Saat ini, Boni lebih merasa hidup nyaman bersama sanak keluarganya dan tinggal di Kampung Kulirik, Distrik Muara, Kabupaten Puncak Jaya. "Terima kasih kepada Satgas Binmas Polres Puncak Jaya karena sudah memberikan bantuan kepada kami. Saya berharap kegiatan positif bisa dilanjutkan karena sangat bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya, Jumat (11/6) saat dikunjungi Satgas Binmas Noken. Oleh jajaran Polres Puncak Jaya, Boni selalu dilibatkan dalam menjaga keamanan di daerahnya. Kapolres Puncak Jaya, AKBP Mikael Suradal menyebutkan komunikasi dan silaturahmi intensi kepada Boni Telenggen tetap dilakukan, terutama dalam menjaga keamanan. "Kami mengajak Boni Telenggen menjaga kampungnya dari KKB Puncak yang ingin masuk ke Puncak Jaya. Hal ini dilakukan agar situasi tetap aman dan kondusif d...

"Jangan Mengatasnamakan Penderitaan Rakyat Palestina Untuk Mengumpul kan Uang"

Jakarta -  Agresi militer Israel ke Palestina, khusunya Jalur Gaza dalam 10 hari terakhir dikecam di seluruh dunia. Trial solidaritas untuk warga Gaza digelar di berbagai kota di dunia, salah satunya di Jakarta. Tak hanya itu, sejumlah pihak juga banyak yang menggalang dana untuk disumbangkan ke Palestina. Ketua Komunitas Palestina di Indonesia, Murad Halayqa mengaku senang dengan tingginya solidaritas masyarakat Indonesia untuk negaranya. Hanya saja dia menyesalkan ada oknum yang kerap memanfaatkan situasi ini untuk mengumpulkan donasi tapi demi keuntungan diri sendiri. "Ada banyak orang yang pakai nama Palestina untuk kumpul duit, itu saya jujur sama kamu, itu salah satu hal yang saya observasi sebagai pekerjaan saya, karena itu yang dipakai nama negara saya. Yang dijual penderitaan rakyat saya. Itu yang saya tidak suka," jelasnya kepada Merdeka.com , Rabu (19/5). Murad mengatakan, pihaknya menghargai setiap nilai sumbangan yang diberikan masyarakat, hanya saja sebaiknya di...

Pasukan Pemberontak Myanmar Menembak Jatuh Helikopter Milik Junta Militer

Naypyitaw -  Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA), salah satu kelompok pemberontak paling kuat di Myanmar, mengklaim telah menembak jatuh sebuah helikopter militer Myanmar. Penembakan dilakukan saat kelompok pemberontak ini membalas serangan udara yang dilancarkan militer Myanmar. Seperti dilansir Reuters, Senin (3/5/2021), Kepala Departemen Informasi Tentara Kemerdekaan Kachin, Naw Bu, menuturkan bahwa helikopter militer itu ditembak jatuh pada Senin (3/5) pukul 10.20 waktu setempat di sebuah desa dekat kota Moemauk, Provinsi Kachin. "Dewan militer melancarkan serangan udara di location tersebut sejak pukul 08.00 atau 09.00 pagi ini dengan menggunakan jet-jet tempur dan juga melepas tembakan menggunakan sebuah helikopter jadi kami balas menembak ke arah mereka," tutur Naw Bu dalam pernyataannya. Portal berita lokal, MizzimaDaily dan Kachinwaves, juga melaporkan ditembak jatuhnya helikopter militer itu dengan menyertakan foto kepulan asap yang membubung dari daratan ke udara. Sa...